Tentang Kami

ulayat_profile

 

Yayasan Ulayat Adalah sebuah Organisasi Non Pemerintah yang didirikan pada tanggal 26 januari 2000 di Bengkulu. Aktivitas utama Yayasan Ulayat meliputi pelayanan masyarakat di dalam dan sekitar hutan, melakukan pemantauan kasus-kasus kehutanan dan perkebunan, melakukan inventarisasi model-model pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat dan advokasi kebijakan lingkungan di Indonesia.

Visi Ulayat

Terciptanya komunitas di dan sekitar kawasan hutan yang kuat dalam pengelolaan sumber daya alam yang demokratis.

Dalam upaya pencapaian tujuannya (Visi) diatas Ulayat Bengkulu mengembangkan misi :

Melakukan Penguatan Kapasitas Ulayat.

Sebagai organisasi advokasi lingkungan yang belum lama didirikan, Ulayat merasakan masih belum banyak melakukan perubahan yang signifikan bagi kepentingan masyarakat dan sumber daya alam, lokal maupun nasional. Kendala yang paling sering muncul adalah keterbatasan sumber daya manusia dan kemampuan personal ulayat dalam bidang pekerjaannya masing-masing. Sehingga Ulayat, baik secara kelembagaan maupun personalnya, masih perlu banyak berbenah dan perlu meningkatkan kemampuannya, untuk dapat menghadapi semua tantangan yang mengancam sumber daya alam dan masyarakat lokal. Dalam dua tahun terakhir ini, Ulayat mencoba untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan melakukan strategic planning, pelatihan-pelatihan bagi stafnya dengan mengundang beragam fasilitator yang dibutuhkan dari berbagai lembaga nasional hingga internasional.

Mendorong Lahirnya Kebijakan-kebijakan PSDA yang Berpihak pada Masyarakat dan Lingkungan.

Dalam misi ini, Ulayat melakukan lobby-lobby dengan pendekatan taktis dan strategis kepada pihak-pihak yang berwenang, termasuk melakukan aktivitas kampanye untuk mengurangi deforestasi dan degradasi hutan yang dilakukan mulai dari tingkat lokal, regional sumatera sampai tingkat nasional. Peran lainnya yang diambil Ulayat adalah sejak tahun 2001 masuk sebagai komisi tim penilai Amdal di propinsi Bengkulu.

Memperkuat Kelembagaan Masyarakat Dampingan agar memiliki Posisi Tawar dan Melakukan Kontrol atas Kebijakan PSDA dan Keaneka Ragaman Hayati.

Dalam mencapai misi ini, Ulayat melakukan kegiatan-kegiatan pengorganisasian bagi masyarakat di dalam dan di sekitar hutan yang kondisinya kritis dan penuh dengan konflik. Pendampingan ini dilakukan secara live-in dan berkesinambungan. Dalam dua tahun terakhir ini ulayat juga melakukan upaya pengorganisasian dan perencanaan pembangunan tataruang desa secara partisipatif, yang dilakukan untuk memperkuat posisi masyarakat dalam PSDA yang dilakukan di beberapa tempat (kabupaten) di propinsi Bengkulu.

Membangun Aliansi Strategis untuk Mendukung Masyarakat Dampingan.

Upaya memperkuat masyarakat dampingan dan gerakan yang dibangun, untuk tercapainya pengelolaan sumberdaya alam dan hutan yang lestari, berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat, Ulayat membangun aliansi strategis dengan beberapa lembaga ditingkat lokal, regional, nasional dan internasional. Hal ini menjadi penting karena menyangkut dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang cenderung hanya berpihak pada kepentingan investasi.

Menumbuhkembangkan Model-model Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berbasis pada Kearifan Lokal.

Sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat dampingannya, Ulayat mencoba membangun beberapa model PSDA yang berkelanjutan dan berbasis pada kearifan-kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat (pranata dan adat) yang secara turun temurun sudah ada. Hal ini dinilai sangat penting dilakukan sebagai pembanding bagi pihak lain, terutama bagi pemegang dan penentu kebijakan/kekuasaan untuk melihat dan menilai kembali kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan dengan model pembangunan SDA (hutan) yang lebih menjamin fungsi serta keberlanjutannya yang dapat serta telah dilakukan oleh masyarakat.

Dari perencanaan strategis yang dilaksanakan secara partisipatif, telah dirumuskan posisi dan peran strategis ULAYAT, yaitu:

·      ULAYAT sebagai lembaga advokasi lingkungan, inventarisasi, fasilitasi, dan kampanye.

·      ULAYAT sebagai lembaga yang mewakili kemajemukan masyarakat (berdasarkan geografis, gender, dan sejarah).

·      ULAYAT sebagai mediator dalam proses desentralisasi yang mempromosikan pengelolaan ekosistem berbasis masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip Pembangunan Berkelanjutan.

·      ULAYAT berperan mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam pengelolaan sumber daya alam, pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati.

·      ULAYAT mendorong mobilisasi sumber daya untuk menjamin kemandirian, independensi dan keberlanjutan lembaga/organisasi rakyat.

·      ULAYAT memfasilitasi terbangunnya pusat informasi Bank Data yang melibatkan peran aktif multipihak.

Berkaitan dengan peran strategisnya, ULAYAT menempatkan diri sebagai fasilitator maupun ‘jembatan’ dalam berbagai bentuk hubungan, baik kerjasama maupun konflik, yang terjalin antara pihak-pihak yang berbeda.

 

Menggalang Kemitraan dengan Unsur-unsur Strategis

Dengan fungsinya sebagai lembaga Advokasi Lingkungan dan fasilitator masyarakat lokal, maka dalam pelaksanaan program-programnya, ULAYAT perlu menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga dan unsur-unsur masyarakat sesuai kebutuhan ULAYAT dan kompetensi lembaga mitra. Untuk itu ULAYAT telah mengembangkan kriteria yang dapat digunakan sebagai dasar untuk membentuk kemitraan, yaitu:

·      Mitra mempunyai komitmen pada pelestarian dan pemanfaatan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup,

·      Kemitraan tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar ULAYAT,

·      Mitra dan ULAYAT mempunyai kesamaan visi dan misi,

·      Adanya kesediaan untuk berbagi sumber daya, risiko, beban dan wewenang.

·      Kemitraan tidak mengandung konflik kepentingan,

·      Mitra mempunyai kompetensi, akuntabilitas dan dapat dipercaya

Untuk kebutuhan pengembangan data dasar, dokumentasi dan penyebaran informasi terkini serta teknologi mengenai pengelolaan Sumberdaya Alam, ULAYAT menjalin kerjasama erat dengan masyarakat ilmiah di perguruan-perguruan tinggi, lembaga-lembaga penelitian, di samping kelompok dan anggota swadaya masyarakat yang secara tradisional memiliki kearifan dan telah melakukan upaya tersebut.

Untuk pengembangan pendidikan dan pelatihan mengenai lingkungan dan pengelolaan sumberdaya alam, ULAYAT menjalin kerjasamanya dengan kalangan akademis (sekolah dan universitas), lembaga/instansi pemerintah, serta LSM dan masyarakat lokal.

Untuk menangani masalah-masalah kebijakan, sistem dan peraturan/perundang-undangan yang menjadi faktor tidak langsung terhadap merosotnya peran serta masyarakat dan kemiskinan, ULAYAT menjalin kerjasama dengan lembaga maupun jaringan Ornop/LSM lokal, nasional dan internasional, dengan instansi pemerintah di tingkat nasional dan daerah, dengan lembaga-lembaga legislatif, eksekutif, partai politik, media massa dan lembaga-lembaga pengkajian isu terkait.

Dalam upaya penegakan hukum, ULAYAT menjalin kerjasama dengan perseorangan maupun lembaga yang memiliki kompetensi dan akuntabilitas, baik dari kelompok/lembaga swadaya masyarakat maupun lembaga penegak hukum dan peradilan.

Untuk pengembangan sumber daya, ULAYAT menjalin kerjasama lembaga-lembaga donor, dunia usaha maupun pihak-pihak lain yang dapat mendukung terwujudnya program-program penggalangan sumber daya. Khusus kemitraan dengan dunia usaha, ULAYAT menjalin hubungan dengan dunia usaha yang memiliki kepedulian dengan masalah-masalah sosial dan lingkungan yang juga secara nyata telah menerapkan prinsip-prinsip ‘ramah lingkungan’ dalam siklus usahanya. Dalam hal ini, upaya memenuhi kepentingan dan kebutuhan kedua pihak tersebut, ULAYAT dan dunia usaha tidak menimbulkan konflik atau merugikan kepentingan pihak lain. Prinsip kemitraan yang saling menghargai dan saling menguntungkan menjadi landasan penting dalam setiap langkah hubungan tersebut.

Hubungan kemitraan dengan kelompok-kelompok strategis tersebut dijalin dalam kerangka kerjasama kolaborasi, koalisi. Setiap mitra, baik perseorangan maupun lembaga, dipilih karena memenuhi kriteria berikut:

·      Menunjang pencapaian visi dan misi ULAYAT;

·      Tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar ULAYAT;

·      Kerjasama yang terjalin tidak akan memunculkan benturan kepentingan; handal, dapat dipercaya dan bertanggung-gugat;

·      Serta memiliki komitmen terhadap upaya pelestarian lingkungan dan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan.

Saat ini Ulayat merupakan mitra Sawit Watch, DFID-MFP, KEMALA, KpSHK, AMAN, Forest Watch Indonesia, KEHATI, SALAM Bogor, TELAPAK, EIA-UK. GEF-SGP, YBUL, WCS-IP, Both Ends dan Wetlands-IP. Selain menjadi Koordinator Forest Watct Indonesia di Sumbagsel, saat ini Ulayat telah membangun jaringan monitoring dan investigasi hutan di sekitar TNBBS (2 Propinsi) dan TNKS (4 Propinsi)