Nilai Tukar Petani Naik Kesejahteraan Petani Meningkat

BE – Nilai Tukar Petani (NTP) adalah salah satu indikator relatif untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani. Semakin tinggi NTP yang diraih suatu daerah, maka relatif semakin sejahtera tingkat kehidupan petani di daerah tersebut. NTP ini sendiri diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase).

NTP amatlah berfluktuasi (mengalami penurunan dan kenaikan ) tiap bulannya. Penuruan NTP pada umumnya terjadi ketika musim panen tanaman bahan makanan atau tanaman perkebunan rakyat. Sebaliknya kenaikan NTP umumnya terjadi pada saat tidak musim tanaman bahan makanan atau hasil perkebunan rakyat.

Kendati demikian menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu Abdul Manaf MSi melalui Kabid Distribusi Firdaus SE fluktuasi harga komoditas konsumsi rumah tangga dan biaya produksi serta penambahan barang modal juga mempengaruhi tinggi rendahnya NTP.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan BPS, NTP Provinsi Bengkulu pada November 2007 sebesar 110,77. Jika dibanding bulan sebelumnya dimana pada Oktober 2007 NTP yang dicapai 106,21 maka NTP tersebut megalami peningkatan sebesar 4,29 persen. Terjadinya peningkatan ini, maka secara relatif telah terjadi peningkatan kesejahteraan petani dari Oktober ke November tahun lalu.

Dikatakan Firdaus, kenaikan NTP pada November 2007 ini disebabkan karena terjadinya kenaikan indeks harga yang diterima petani (IT) pada bulan sebelumnya (Oktober). Dimana pada Oktober tahun lalu IT sebesar 632,94 dan pada November sebesar 673,36. Kenaikan IT yang terjadi pada November ini sebesar 6,39 persen.
Namun pada saat bersamaan indeks harga yang bayar petani (IB) juga mengalami kenaikan sebesar 2,01 persen pada bulan sebelumnya.

Dimana pada Oktober, IB sebesar 595,92 dan November sebesar 607,91. IT dan IB petani sama-sama mengalami kenaikan. Namun laju kenaikan IT petani lebih pesat ketimbang IB petani sehingga membuat NTP mengalami kenaikan, katanya.

Dijelaskan Firdaus kenaikan IT petani pada November tahun lalu dipicu naiknya subsektor tanaman bahan makanan (TBM) sebesar 7,26. Dimana pada Oktober TBM sebesar 651,09 dan November menjadi 698,37.
Dari empat komoditi TBM, sayur-sayuran mengalami kenaikan yang cukup besar pada November yakni 10,83 persen. Kemudian diikuti oleh buah-buahan dan palawija yang masing-masing mengalami kenaikan sebesar 5,81 persen dan 2,16 persen. Sedangkan untuk tanaman perkebunan rakyat (TPR) mengalami kenaikan sebesar 3,73 persen dari 583,72 pada Oktober menjadi 605,51 di November.

Untuk IB petani kata Firdaus terjadi fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi dan yang diperlukan diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian oleh masyarakat pedesaan. Terkhususnya petani yang merupakan bagian terbesar.

Sedangkan kenaikan IB petani ini sendiri disebabkan terjadinya kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT). Kenaikannya sebesar 2,65 persen dari 565,27 pada Oktober menjadi 580,27 pada November. Sedangkan untuk Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (IBPPBM) tidak mengalami perubahan. (007/prog)

//Kenaikan Terbesar
Dari laporan 18 provinsi di Indonesia yang melaporkan NTP-nya, 10 provinsi mengalami kenaikan, 7 provinsi mengalami penurunan dan 1 provinsi mengalami NTP yang tetap. Provinsi Bengkulu adalah salah satu dari 7 provinsi yang mengalami kenaikan NTP pada November 2007.

Dari 6 provinsi di Pulau Sumatera yang melaporkan hasil survey NTP pada Novemebr 2007, NTP Provinsi Bengkulu mengalami kenaikan terbesar yakni 4,29 persen. Sedangkan Provinsi Jambi mengalami penurunan NTP sebesar 2,01.

Kendati mengalami kenaikan NTP terbesar namun di Pulau Sumatera yang meraih NTP terbesar yakni Provinsi Sumatera Selatan sebesar 139,72 dan NTP terendah yakni Sumatera Barat sebesar 70,20.

One thought on “Nilai Tukar Petani Naik Kesejahteraan Petani Meningkat

  1. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN

    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia.
    NPK yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
    Produk ini dikenalkan oleh pemerintah saat itu sejak tahun 1969 karena berdasarkan penelitin bahwa tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK). Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan pemerintah tersebut. Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-an pada saat Indonesia swasembada pangan. Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia.

    Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak bijaksana dan tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.

    System of Rice Intensification (SRI) pada tanaman padi yang sedang digencarkan oleh SBY adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik, belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam budidayanya.

    Petani kita karena sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.
    Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita; yaitu “BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK NASA”. Cara gabungan ini hasilnya tetap ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki oleh pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.

    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI.
    SIAPA YANG AKAN MEMULAI?
    KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI?
    KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    GUNAKAN NASA UNTUK BERTANI PADI DAN BERBAGAI KOMODITI.
    HASILNYA TETAP ORGANIK, KUALITAS DAN KUANTITAS MENINGKAT, RAKYAT MENJADI SEHAT, NEGARA MENJADI KUAT.

    omyosa,
    papa_260001527@yahoo.co.id

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s