Lahan Gambut, Warga Enggan Tanam Padi

MUKOMUKO, BE – Menjadi transmigran puluhan tahun, bukan jaminan sukses menjadi petani. Kondisi lahan transmigran yang masih berupa lahan gambut membuat petani enggan menanam padi. Hal ini karena pengolahan lahan gambut sebagai areal persawahan dinilai tidak menguntungkan bagi transmigran. Kondisi tanah bergambut tidak mampu menghasilkan produksi padi memadai, meski sistem pengolahan, pemupukan dan pemilihan benih telah dilakukan sesuai teknologi terpadu.

Karena itu, warga transmigran banyak yang beralih pada profesi lain, seperti menjadi buruh tani, bangunan dan pekerjaan lainnya selain bertani. Sejak tahun 1988 saya masuk di Mukomuko menjadi transmigran belum pernah menjual hasil panen padi. Paling hanya untuk konsumsi sendiri, karena lahan sawah bergambut yang dalamnya sampai lebih sepinggang orang dewasa. Kalau pun dipaksa sehektar hanya mampu menghasilkan 25 karung gabah atau satu ton lebih. Kalau awal-awal masih memungkinkan 4 ton, lama-lama semakin menyusut, ungkap Sutrisno, transmigran Desa Tirta Mulya (SP V), kemarin.

Menurut lelaki asal Jawa Tengah itu, di Tirta Mulya sendiri sekitar 100 hektar lahan sawah masih bergambut. Alhasil, beberapa transmigran mengalihkan menjadi lahan sawit. Walau demikian, untuk saat ini pengalihan menjadi lahan sawit dilarang oleh pemerintah. Karena peruntukan lahan telah ditetapkan sebagai areal produksi padi yang mengandalkan irigasi Bendungan Manjunto Kiri. Kondisi lahan gambut, selain di Tirta Mulya juga terdapat di sebagian areal persawahan SP 6, SP 8 dan SP 6.

Semua sebenarnya lancar, baik irigasi yang tersedia maupun pemupukan. Bibit padi pun kualitas unggul seperti Ciherang dan Batang Lembang. Tapi memang lahan gambut tersebut tidak mendukung produktivitas padi, tambahnya.

Dengan kondisi itu, beberapa petani mengambil alternatif melakukan penimbunan lahan. Sehingga kedalaman lahan gambut bisa berkurang dan memungkinkan diolah. Padahal pengalihan lahan gambut menjadi perkebunan sawit juga membantu mengurangi kedalaman Lumpur. Karena sawit mampu mengeringkan air sampai tanah lambat laun mengering.
Resikonya memang lahan menjadi tandus jika ditanami sawit dalam jangka waktu lama nanti. Tapi saya masih mempertahankan sawah, saat ini saya lakukan penimbunan dulu supaya bisa ditanami. Karena memang Mukomuko diprogramkan menjadi lumbung padi bagi Bengkulu, kata warga transmigran lainnya, Paijo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s